Gaya Hidup post author Kiwi 20 Oktober 2026

Momentum peringatan Hari Aksi Kemanusiaan Sedunia: Bruder Stephanus Paiman OFMCap Menolong Tanpa Memilih dan Memilah

Photo of Momentum peringatan Hari Aksi Kemanusiaan Sedunia: Bruder Stephanus Paiman OFMCap Menolong Tanpa Memilih dan Memilah

PONTIANAK, SP – Bagi Bruder Stephanus Paiman OFMCap, kemanusiaan tidak pernah mengenal batas agama, suku, status sosial, ataupun latar belakang seseorang.

Ketika ada orang yang membutuhkan pertolongan, yang pertama kali hadir dalam pikirannya bukan siapa yang harus dibantu, melainkan bagaimana bantuan itu bisa segera diberikan.

Prinsip sederhana itulah yang selama ini dihidupi Bruder Stephanus, Ketua Forum Relawan Kemanusiaan Pontianak (FRKP), dalam mendampingi masyarakat kecil.

Tanpa banyak bicara, tanpa mencari pujian, dan tanpa mengharapkan imbalan, ia bersama para relawan berupaya menghadirkan pertolongan bagi mereka yang tengah menghadapi kesulitan.

Momentum peringatan Hari Aksi Kemanusiaan Sedunia menjadi ruang untuk kembali melihat makna kepedulian yang sesungguhnya. Di Pontianak, Kalimantan Barat, semangat tersebut tidak hanya berhenti sebagai pesan moral, tetapi diwujudkan melalui kerja nyata para relawan yang memilih hadir ketika sesama membutuhkan bantuan.

FRKP, organisasi nirlaba yang telah berkarya selama 21 tahun, menjadi salah satu ruang pengabdian Bruder Stephanus untuk mendampingi masyarakat kecil. Forum ini bergerak membantu mereka yang membutuhkan, mulai dari anak yatim piatu, para janda, keluarga kurang mampu, hingga warga yang menghadapi persoalan kemanusiaan dan membutuhkan pendampingan.

Bagi Bruder Stephanus, kemanusiaan tidak cukup hanya dibicarakan dalam forum, disampaikan melalui pidato, atau dituliskan sebagai pesan kebaikan. Kemanusiaan harus hadir dalam tindakan, meskipun sederhana dan dilakukan tanpa diketahui banyak orang.

“Kita tidak hanya bicara, kita lebih banyak berbuat, secara tenang, tidak perlu ribut,” kata Bruder Stephanus saat ditemui di Pontianak, Senin (19/10/2026).

Berangkat dari Keberpihakan kepada Orang Kecil

Sebagai seorang Kapusin, Bruder Stephanus memegang teguh prinsip hidup untuk tinggal bersama orang kecil, membela keadilan dan kebenaran, serta mencintai alam.

Nilai-nilai tersebut menjadi landasan pengabdiannya sekaligus membentuk cara pandangnya terhadap kehidupan bermasyarakat.

Ia mengaku telah berusaha menghidupi semangat kemanusiaan jauh sebelum FRKP berdiri. Baginya, persoalan kemanusiaan begitu luas, tetapi ia memilih mengambil bagian secara langsung dengan mendampingi mereka yang kerap berada dalam posisi paling rentan.

Keberpihakan itu tidak dibatasi oleh identitas maupun perbedaan keyakinan. Siapa pun yang membutuhkan pertolongan berhak mendapatkan kesempatan untuk dibantu, sepanjang FRKP mampu memberikan bantuan tersebut.

Dalam praktiknya, semangat lintas suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) bukan sekadar slogan. Nilai itu terlihat dari cara para relawan membangun hubungan dengan masyarakat, mendengarkan kesulitan mereka, dan berusaha mencari jalan keluar sesuai kemampuan yang dimiliki.

Bruder Stephanus percaya bahwa setiap manusia memiliki martabat yang harus dihormati. Karena itu, pertolongan tidak semestinya diberikan berdasarkan kedekatan, kesamaan agama, atau latar belakang tertentu, melainkan berdasarkan kebutuhan dan kemampuan untuk membantu.

Mengantar Jenazah, Meringankan Beban Keluarga

Salah satu kisah yang menggambarkan prinsip tersebut terjadi ketika seorang warga dari Desa Karangan, Kabupaten Landak, meninggal dunia di Jakarta. Dalam situasi berduka, keluarga almarhum menghubungi FRKP untuk meminta bantuan membawa jenazah ke kampung halaman.

Bagi keluarga yang ditinggalkan, kehilangan orang terkasih sudah menjadi beban emosional yang berat. Di tengah kesedihan itu, mereka masih harus memikirkan biaya dan berbagai kebutuhan untuk memulangkan jenazah.

FRKP menyatakan kesediaannya membantu setelah memperoleh informasi mengenai jadwal penerbangan. Namun, persoalan belum selesai. Keluarga menghadapi kesulitan ketika mengetahui harga peti jenazah mencapai sekitar Rp3,5 juta.

Melihat kondisi tersebut, Bruder Stephanus turut membantu menyediakan peti jenazah. FRKP kemudian membantu proses pengantaran hingga jenazah tiba di kampung halaman tanpa memungut biaya.

“Soal peti saya bantu, membawa jenazah ke kampungnya juga kami bantu, gratis semua,” tuturnya.

Bagi Bruder Stephanus, bantuan seperti itu mungkin terlihat sederhana bagi sebagian orang. Namun, bagi keluarga yang sedang berduka dan memiliki keterbatasan ekonomi, pertolongan tersebut dapat mengurangi beban yang harus mereka tanggung.

Di situlah kemanusiaan menemukan maknanya. Bukan semata-mata tentang besarnya bantuan, melainkan kesediaan untuk hadir ketika seseorang tidak lagi tahu harus meminta pertolongan kepada siapa.

Menjangkau Daerah, Menembus Batas Kemanusiaan

Pengabdian FRKP tidak hanya berlangsung di Pontianak maupun wilayah Kalimantan Barat. Bruder Stephanus mengatakan, forum yang dipimpinnya memiliki jangkauan kegiatan hingga ke luar daerah, termasuk ketika terjadi bencana berskala nasional.

Relawan FRKP pernah terlibat dalam kegiatan kemanusiaan terkait gempa bumi di Palu, Sulawesi Tengah, dan tsunami Mentawai, Sumatera Barat.

Keterlibatan tersebut memperlihatkan bahwa kepedulian tidak selalu berhenti pada lingkungan terdekat. Ketika bencana terjadi dan masyarakat membutuhkan bantuan, solidaritas dapat melintasi batas wilayah, mempertemukan orang-orang dari latar belakang berbeda dalam satu tujuan: meringankan penderitaan sesama.

Selain bantuan kemanusiaan, FRKP juga memberikan pendampingan hukum bagi masyarakat kurang mampu melalui para advokat yang tergabung dalam forum tersebut. Pendampingan ini menjadi bentuk kepedulian lain bagi warga yang membutuhkan akses terhadap bantuan hukum, tetapi menghadapi keterbatasan biaya.

“Kami tidak mencari imbalan, kami dapat lakukan ya kami lakukan, dan semuanya gratis,” ujar Bruder Stephanus.

Prinsip tersebut, menurutnya, tumbuh dari kesadaran bahwa manusia hidup saling membutuhkan. Apa yang dapat dilakukan untuk meringankan beban orang lain hendaknya dikerjakan dengan tulus, tanpa menjadikan imbalan sebagai ukuran utama.

Tantangan yang Dijawab dengan Gotong Royong

Menjalankan kegiatan kemanusiaan tentu tidak selalu mudah. Bruder Stephanus mengakui, tantangan yang dihadapi relawan cukup beragam, terutama berkaitan dengan kebutuhan operasional dan biaya perjalanan.

Ketika harus mengantar jenazah ke Kapuas Hulu, misalnya, perjalanan jauh membutuhkan bahan bakar dalam jumlah tidak sedikit. Biaya operasional semakin menjadi persoalan ketika keluarga yang dibantu memang berasal dari kalangan kurang mampu.

Menurut Bruder Stephanus, kondisi keluarga biasanya dapat dipahami dari permintaan bantuan yang mereka sampaikan. Keluarga yang memiliki kemampuan finansial umumnya dapat menyewa layanan ambulans, sementara mereka yang menghubungi FRKP sering kali benar-benar membutuhkan pertolongan.

Meski demikian, keterbatasan tidak selalu menjadi penghalang. Dalam sejumlah kesempatan, bantuan datang dari anggota maupun orang-orang yang memiliki kedekatan dengan FRKP, termasuk mantan anak asuh Bruder Stephanus yang kini bertugas di berbagai daerah.

Ada yang membantu bahan bakar, ada yang memberikan uang makan, bahkan menyediakan kopi bagi pengemudi yang menjalankan tugas kemanusiaan.

Bantuan-bantuan kecil itu menjadi bagian dari mata rantai kebaikan yang terus bergerak. Ketika satu orang bersedia membantu, orang lain tergerak melakukan hal serupa. Gotong royong pun menjadi kekuatan yang memungkinkan pelayanan kemanusiaan tetap berjalan di tengah keterbatasan.

Dari pengalaman tersebut, Bruder Stephanus tidak ingin para relawan kehilangan keberanian hanya karena menghadapi kesulitan. Ia meyakini bahwa niat baik perlu disertai kemauan untuk melangkah dan kesediaan untuk bekerja bersama.

“Jangan pernah takut berbuat baik, karena niat tulus akan selalu diberkati dan dibantu oleh Allah yang kita imani,” pesannya.

Mengajak Generasi Muda Menjadi Pelaku Kebaikan

Di tengah perjalanan pengabdiannya, Bruder Stephanus juga menaruh harapan besar kepada generasi muda. Ia berpesan agar anak-anak muda terus mengejar prestasi dan mengembangkan kemampuan, tanpa melupakan iman serta tanggung jawab terhadap sesama.

Menurutnya, apa pun agama yang dianut seseorang, nilai-nilai kebaikan tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan. Perbedaan keyakinan tidak semestinya menjadi alasan untuk menjauh, apalagi menutup pintu pertolongan bagi orang lain.

Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak kehilangan jati diri dan terus memahami hakikat kehidupan. Prestasi, menurutnya, akan memiliki makna lebih besar ketika dibarengi sikap peduli dan kesediaan memberikan manfaat bagi lingkungan.

“Hidupmu adalah khotbah yang hidup, tidak perlu berteriak di atas mimbar kalau kita sendiri tidak berbuat,” kata Bruder Stephanus.

Pesan itu sekaligus menjadi gambaran tentang cara ia memandang pengabdian. Kebaikan tidak selalu harus diumumkan. Terkadang, tindakan sederhana yang dilakukan dengan tulus justru berbicara lebih lantang daripada banyak kata.

Bruder Stephanus berharap generasi muda tumbuh menjadi pribadi berprestasi yang berguna bagi masyarakat, negara, dan agama. Ia ingin semangat kepedulian terus diwariskan, sehingga semakin banyak orang tergerak untuk membantu tanpa menunggu diminta dan tanpa terlebih dahulu mempertanyakan latar belakang orang yang ditolong.

Selama 21 tahun FRKP berkarya, perjalanan kemanusiaan itu menjadi pengingat bahwa pertolongan tidak selalu berawal dari sesuatu yang besar. Ia bisa dimulai dari sebuah telepon keluarga yang sedang berduka, perjalanan panjang mengantar jenazah, bantuan bahan bakar, atau kesediaan mendampingi warga yang tidak memiliki biaya untuk mencari keadilan.

Bagi Bruder Stephanus Paiman OFMCap, kemanusiaan adalah keberanian untuk hadir, ketulusan untuk membantu, dan kerendahan hati untuk bekerja tanpa mencari pujian.

Sebab, ketika seseorang sedang berada dalam kesulitan, yang paling dibutuhkan bukanlah pertanyaan tentang siapa dirinya atau dari mana asalnya, melainkan uluran tangan yang membuatnya merasa tidak sendirian.

Dan di sanalah semangat kemanusiaan lintas SARA menemukan wujudnya: menolong tanpa memilih dan memilah, menguatkan tanpa membeda-bedakan, serta berbuat baik tanpa menghitung apa yang akan diterima kembali. (*)

Keywords

Berita Terkait

Baca Juga

Komentar Anda